Minggu, 21 Maret 2010

KONSEP DAN INDIKATOR PEMBANGUNAN


17.32 |


Pemateri :
Drs. Slamet Riadi,MM

Kegiatan :
Diklat Pim IV angkatan XIV Tahun 2010

Hari/Tgl. :
Senin,15 Maret 2010

Tempat :
Balai Diklat Keagamaan Jakarta


Diawal perjumpaan pagi ini, widiyaiswara materi Konsep Dan Indikator Pembangunan, (Bapak Slamet Riadi); mengutip satu kata-kata bijak yang berkaitan dengan materi ini; beliau mengatakan;

“Di dunia ini tidak ada kepastian, kecuali ketidakpastian itu sendiri yang pasti”
“Di dunia ini tidak ada keabadian, kecuali perubahan itu sendiri yang abadi”.


Ruang lingkup materi pembelajaran ini meliputi pembahasan tentang arti pembangunan, beberapa konsep pembangunan yang lazim dipakai dalam pembahasan teori dan masalah pembangunan, beberapa indikator pembangunan yang berhubungan dengan beberapa konsep pembangunan terdahulu untuk sampai pada pembahasan masalah pembangunan.

Bagi aparatur negara (baik pusat maupun di daerah) yang telah secara rutin terlibat dalam berbagai proyek pembangunan maupun dalam penyusunan berbagai kebijaksanaan, terdapat kecenderungan untuk mengartikan pembangunan dalam arti sempit sehingga kehilangan perspektif pembangunan dalam arti yang utuh dan menyeluruh (holistik).

Aparatur negara sebagai praktisi pembangunan bertugas untuk mengikuti perkembangan pelaksanaan pembangunan, sehingga perlu menguasai berbagai indikator pembangunan agar dapat mengidentifikasi masalah-masalah pembangunan dan dapat merumuskan berbagai alternatif jalan keluarnya.

Makna pembangunan bagi para penyelenggara negara perlu terus untuk diingatkan kembali terutama mengingat akan adanya beberapa perkembangan yang dihadapinya sejak akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-21 ini. Pertama, krisis ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia sejak akhir tahun 1997 telah menyebabkan upaya penyelenggaraan negara menjadi lebih konsentrasi pada upaya pemulihan ekonomi yang mengandung dimensi waktu jangka pendek, dengan resiko adanya kecenderungan kehilangan perspektif pembangunan yang mengandung dimensi waktu jangka panjang. Kedua, trend globalisasi nampaknya semakin memandang negara-negara yang sebelumnya didefinisikan sebagai negara-negara yang sedang membangun (developing nations) menjadi hanya sebagai “emerging markets” sehingga terdapat risiko akan pudarnya makna pembangunan sebagai upaya multi dimensi dan bukan hanya sebagai pengembangan pasar baik obyek ekonomi maupun sebagai institusi ekonomi. Ketiga, setelah adanya reformasi sejak tahun 1998, maka para penyelenggara negara harus mengkaji masalah-masalah pembangunan secara lebih realistis, dalam arti harus meninggalkan pendekatan yang hanya menonjolkan keberhasilan yang telah dicapai tetapi juga masalah-masalah yang harus dilihat secara jernih dan obyektif demi berlangsungnya proses pembangunan secara berkelanjutan. Keempat, walaupun para penyelenggara negara melaksanakan tugasnya dalam rangka pembangunan negara, dalam kegiatan rutinitasnya sehari-hari akan terdapat kecenderungan para aparatur negara untuk berfikir secara terkotak-kotak dengan kehilangan dimensi tugasnya dalam konteks pembangunan secara keseluruhan. Dalam pada itu, penyelenggaraan negara dalam wadah SANKRI (Sistim Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia) harus berinteraksi dengan sistem-sistem yang terdapat di dalam berbagai bidang kehidupan, seperti sistem sosial budaya, politik, ekonomi, hukum, pertahanan keamanan, dan sebagainya”.

Adapun diantara indikator pembangunan adalah antara lain; Pertama, Indikator Ekonomi makro. Kedua, Indikator Kesempatan Kerja. Ketiga, Indikator Pemerataan. Dan keempat, Indikator Kemiskinan.

Laju pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat tidak akan serta merta menghasilkan laju petumbuhan yang sama dalam penciptaan kesempatan kerja. Besaran garis kemiskinan akan terus berubah sesuai dengan peningkatan biaya hidup yang umumnya lebih besar diperkotaan daripada di pedesaan.

Dengan demikian jelaslah bahwa akhir dari proses pembangunan adalah ditandai adanya pertumbuhan ekonomi, maka diperlukan suatu konsep yang menggambarkan adanya peningkatan kegiatan ekonomi secara menyeluruh (ekonomi makro), dalam rangka meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.


You Might Also Like :


0 comments:

Poskan Komentar